what doesn’t kill you only makes you…


i bet most of you have heard that sentence before…

there are two ending version of that statement. the first one is stronger and the other one is stranger. the second version is made popular only in recent times by The Joker in the Dark Knight movie. although there’s only one letter that separetes those two endings, but the meaning is a whole lot different.

if you choose stronger it means that you see life in a positive way. you’re the kind of person that will say that the glass is half filled. you take lessons from your mistakes and make sure that you don’t repeat them in the future. a failure is success delayed.

on the contrary, if you choose stranger then it means that you see life in a more negative way. for you the glass is always half empty no matter what. but then again why does someone filled a glass with only half of its capacity???

i myself is a “stranger” type of person. sure i take lessons from life but sometimes i find myself hard to keep thinking in a positive way. sometimes we just have to accept that a failure is a failure and know when it is time to quit.

so which one are you???

sekilas tentang Pengadilan Pajak


mungkin sebagian teman-teman yang bergerak di bidang keuangan sudah akrab dengan nama tersebut. ya Pengadilan Pajak adalah institusi peradilan yang berada di bawah kewenangan Mahkamah Agung yang khusus menangani sengketa di bidang perpajakan.

Pengadilan Pajak dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Pengadilan Pajak berkedudukan di Ibukota Negara. Persidangan oleh Pengadilan Pajak dilakukan di tempat kedudukannya, dan dapat pula dilakukan di tempat lain berdasarkan ketetapan Ketua Pengadilan Pajak.

Susunan Pengadilan Pajak terdiri atas: Pimpinan, Hakim Anggota, Sekretaris, dan Panitera. Pimpinan Pengadilan Pajak sendiri terdiri dari seorang Ketua dan sebanyak-banyaknya 5 orang Wakil Ketua.

pada dasarnya terdapat dua jenis sengketa di Pengadilan Pajak yaiitu sengketa banding dan sengketa gugatan. banyak pihak yang masih merasa bingung dengan kedua jenis sengketa ini. sehingga terkadang banyak permohonan yang ditolak / tidak dapat diterima oleh Pengadilan Pajak.

pada intinya banding hanya dapat diajukan terhadap keputusan yang berisi jawaban atas keberatan wajib pajak atas surat ketetapan pajak yang diterbitkan Direktur Jenderal Pajak (Dasar Hukum : Pasal 35, 36, 37, 38 dan 39 UU Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak), sedangkan gugatan diajukan terhadap pelaksanaan penagihan pajak dan surat keputusan lainnya yang tidak temasuk ke dalam keputusan atas keberatan (Dasar Hukum : Pasal 40, 41, 42 dan 43 UU Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak).

untuk lebih jelasnya mungkin teman-teman dapat mengunjungi www.setpp.depkeu.go.id

REFORMASI ? ? ?


prolog : ini tulisan gw yang sempat di muat di media kantor sekitar bulan februari / maret (lupa persisnya), ini merupakan versi lengkap posting gw sebelumnya. sekedar sharing aja…happy reading ;)

REFORMASI ? ? ?

Reformasi, kalau mendengar kata tersebut pasti yang terbayang di benak kita adalah demonstrasi besar-besaran yang di lakukan mahasiswa pada tahun 1998 yang berujung pada berakhirnya kekuasaan orde baru. Topik ini memang menarik dan seakan-akan tidak ada habisnya untuk dibahas. Akan tetapi pada kesempatan kali ini kita tidak akan membicarakan tentang reformasi tahun 1998 tersebut. Melainkan sebuah reformasi yang lebih kecil, yang timbul sebagai Chain Reaction (Red – Reaksi Berantai) dari reformasi tahun 1998 tersebut. Reformasi yang Penulis maksudkan disini adalah reformasi birokrasi yang sedang berlangsung di kantor penulis

Pembaca mungkin heran melihat judul yang Penulis berikan untuk artikel ini. Mungkin ada yang berpendapat judul tersebut menyalahi kaidah menulis yang terdapat dalam EYD. Namun judul tersebut dibuat bukan sekedar untuk “gaya-gayaan”, tetapi tiga tanda tanya yang terdapat pada judul artikel ini melambangkan kebingungan yang dihadapi Penulis dalam menyikapi proses reformasi birokrasi yang sedang giat dilaksanakan di kantor Penulis. Tanda tanya pertama melambangkan ketidaktahuan Penulis tentang proses reformasi itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti apa, kapan, dimana, siapa, kenapa, dan bagaimana seakan-akan terus bermunculan seputar masalah reformasi ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya melahirkan tanda tanya kedua.

Berangkat dari pengetahuan yang minim tentang proses reformasi tersebut, maka Penulis pun akhirnya merasa ragu apakah proses reformasi yang sedang berlangsung akan membawa manfaat yang nyata tidak hanya dalam memperbaiki proses pelayanan di kantor, namun juga bagi diri Penulis sendiri. And thus the second question mark appears. Keraguan yang Penulis alami akhirnya melahirkan tanda tanya ketiga, yaitu sebuah dilemma tentang bagaimana sikap yang harus Penulis ambil dalam menyikapi reformasi ini. Memang benar sebagai bagian dari sebuah institusi maka setiap kebijakan institusi tersebut harus kita laksanakan dengan sebaik mungkin. Seperti kata pepatah ala bisa karena biasa, ala biasa karena terpaksa. Akan tetapi, alangkah baiknya apabila kemauan untuk berubah tersebut berasal dari dalam diri sendiri dan bukan merupakan sebuah sikap yang dipaksakan. Karena segala sesuatu yang dilaksanakan setengah hati hanya akan menghasilkan output yang tidak maksimal. If something is worth doing, it’s worth doing right.

Untuk sedikit lebih memahami tentang reformasi, mungkin ada baiknya kalau kita mundur sedikit dan mencoba mengerti terlebih dahulu apa arti dari reformasi. Reformasi secara etimologis berasal dari kata Perancis réforme, dan kemudian diadopsi kedalam bahasa Inggris menjadi reform.

“Reform means to change, usually a reversion to what is perceived to be a pure original state. It has been used for any change thought to be positive, however.” (Wikipedia)

“Reform berarti untuk berubah, biasanya merupakan pengembalian ke suatu bentuk yang dianggap sebagai bentuk awal yang murni, akan tetapi kata tersebut telah digunakan juga untuk segala jenis perubahan yang dianggap positif.”

“Reformation means an improvement (or an intended improvement) in the existing form or condition of institutions or practices etc.; intended to make a striking change for the better in social or political or religious affairs.” (Wikipedia).

“Reformasi berarti sebuah peningkatan (atau peningkatan yang disengaja) dalam bentuk atau kondisi dari sebuah institusi atau praktek yang telah ada: yang dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah perubahan yang menyolok menuju arah yang lebih baik di bidang social, politik, atau agama.”

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam bukunya yang berjudul Indonesia On The Move mengungkapkan ada 9 (sembilan) poin dalam sebuah proses perubahan. Walaupun yang dimaksud perubahan oleh SBY dibuku tersebut adalah sebuah proses transformasi, namun Penulis merasa bahwa poin-poin tersebut juga berlaku untuk sebuah proses reformasi. Kita tidak akan berpanjang lebar membahas kesembilan poin tersebut, melainkan kita hanya akan mengambil dua poin yang menurut Penulis paling relevan dengan proses reformasi yang sedang berlangsung di kantor penulis sekarang

“Transformations also requires stimulus or catalyst. This stimulus can take many forms: new ideas, technology, investment, education, elections, governance.”

“Sebuah perubahan juga memerlukan stimulus atau penyeimbang. Stimulus ini dapat hadir dalam banyak bentuk : ide baru, teknologi, investasi, pendidikan, pemilihan, pemerintahan.” (terjemahan bebas Penulis)

Di dalam proses reformasi kantor penulis, kehadiran stimulus ini dapat kita lihat dari dibentuknya Change Agent sebagai pendorong jalannya proses reformasi birokrasi, terbitnya koran kantor sebagai media komunikasi bagi semua stakeholder yang terkait dengan proses reformasi itu sendiri, dan banyak lagi. Kehadiran stimulus-stimulus ini diharapkan mampu mengawal proses perubahan kantor penulis untuk menjadi sebuah institusi yang disegani. Tentunya kita juga tidak dapat hanya mengandalkan para Change Agent yang hanya terdiri dari segelintir pegawai untuk berhasil mereformasi sebuah institusi sendirian. Kita (Red – Pegawai) sebagai stakeholder terpenting juga harus turut serta aktif mendukung dan menyukseskan proses reformasi birokrasi ini. Hal ini membawa kita pada poin kedua bahasan kita.

“the best kind of transformations are those that are homegrown. Even if the stimulus comes from the outside, ultimately, transformations must be driven by national players.”

“jenis perubahan yang paling baik adalah yang tumbuh dari dalam. Bahkan apabila stimulus berasal dari luar, pada akirnya perubahan harus dilakukan oleh pemain lokal.” (terjemahan bebas Penulis)

Agar proses perubahan sebuah institusi dapat berhasil tidak dapat dipungkiri bahwa dukungan dari para pegawai merupakan hal yang mutlak diperlukan. Dukungan pegawai, like it or not, merupakan salah satu indikator keberhasilan dari sebuah perubahan. Apabila sebuah proses perubahan mendapat tentangan dari dalam maka dapat dipastikan proses perubahan tersebut akan gagal.

Seluruh Pegawai selaku pelaku perubahan haruslah betul-betul dilbatkan dalam proses reformasi yang sedang berlangsung. Ibarat naik kapal, semua orang harus paham betul alasan kenapa mereka naik, tujuan kapal, kondisi kapal, dan peran yang harus mereka ambil ketika berada di atas kapal. Sehingga ketika badai datang menerjang, merusak kapal dan membuat kapal melenceng dari jalur semula semua orang dapat bekerja sama untuk memperbaiki kapal dan mengembalikan arahnya ke jalur yang benar. Jangan sampai ada yang hanya menjadi penonton dan tertawa di belakang layar atau malah menambah kerusakan kapal. Komunikasikan dengan baik apa yang menjadi harapan dan tujuan dari perubahan tersebut dan apa yang diharapkan dari para stakeholder agar semua pihak merasa memiliki dan dapat turut serta menyukseskan proses tersebut sesuai dengan peran masing-masing.

Agar dapat memperoleh dukungan dari para pegawai hendaknya para pimpinan jeli dalam melihat, mendengar, dan merasakan pendapat dan harapan para pegawai tentang reformasi tersebut. Sehingga para pegawai dapat merasa menjadi bagian dari reformasi dan bukan hanya sebagai pengamat dari luar. Apabila pegawai telah merasa menjadi subjek dan bukan lagi sebagai objek dari sebuah perubahan, mereka pasti akan bekerja untuk menyukseskan perubahan tersebut.

Berikut adalah beberapa usul yang dapat Penulis berikan untuk turut serta menyukseskan reformasi birokrasi di kantor tercinta ini :

1.Konsolidasi Internal. Berikan penjelasan secara menyeluruh kepada semua pegawai tentang 5w1h sehingga semua pegawai dapat memahami dengan jelas makna sebenarnya dari proses reformasi tersebut. 5w1h itu sendiri terdiri dari :

W yang pertama adalah Why. Kenapa harus berubah?

W yang kedua adalah Who. Siapa saja yang terlibat?

W yang ketiga adalah When. Kapan akan dilaksanakan?

W yang keempat adalah Where. Sektor mana saja yang akan dirubah?

W yang kelima adalah What. Apa manfaat yang dapat diraih?

H yang terakhir adalah How. Dengan cara bagaimanakah perubahan tersebut akan dilakukan dan bagaimana peran masing-masing individu didalam proses prubahan tersebut.

2.Think Big but start small. Lakukan secara bertahap mulai dari hal kecil sampai akhirnya terjadi reformasi secara menyeluruh.

3.Tentukan parameter kesuksesan dan parameter kegagalan yang transparan agar proses reformasi dapat dinilai secara objektif dan empiris.

4.Susunlah Rule of Conduct atau bahasa kerennya Petunjuk Pelaksanaan & Petunjuk Teknis (Juklak & Juknis) agar reformasi dapat berjalan dalam koridor yang jelas dan tidak melenceng dari tujuan semula.

5.Buatlah sebuah reward and punishment system yang adil agar tercipta kondisi yang kondusif bagi jalannya reformasi.

6.Dan jangan lupa karena reformasi adalah sebuah never ending process yang bersifat dinamis, maka keterbukaan terhadap kritik dan saran baik yang berasal dari dalam maupun dari luar merupakan hal yang perlu dijaga demi kesuksesan proses reformasi.

Yakinkan hatimu kawan…


in connection with my “Cintapucino” post a while back…

belakangan ini gw sering banget dengar teman-teman gw cerita tentang masalah yang agak mirip2 ma sindrom cintapucino (walaupun sebenarnya ini masalah klasik yang udah ada jauh sebelum novel maupun film cintapucino ada, tapi gw memutuskan buat makai istilah ini just to make it simple) walaupun dengan berbagai variannya.

IMHO (in my humble opinion) memang cobaan itu datang ketika tidak kita duga…dalam sindrom cintapucino, masa-masa penantian menjelang pernikahan memang masa-masa yang paling rawan terhadap godaan….ketidakpastian perasaan, kegelisahan batin, ketakutan terhadap masa depan membuat diri kita rentan terhadap godaan. dalam keadaan seperti itu cuma dibutuhkan sedikit kata manis dan tindakan yang tepat untuk menggoyahkan hati kita. ya memang inilah salah satu sifat manusia yang tidak dapat dihindari.

buat teman-teman yang sedang bimbang sekarang, ingatlah kenapa kalian memilih pasangan (calon pasangan) kalian pada awalnya. sebuah hubungan tidak cukup hanya didasari rasa cinta saja, tapi juga harus didukung dengan komitmen yang kuat dari masing-masing individu…saat ragu datang menyerang just remember all the good times you’ve spent together, the feeling that he / she made you feel when he / she is around you. are you willing to sacrifice all of those???for what???untuk sesuatu yang juga gak pasti???

yakinkan hatimu bahwa apa yang kamu rasakan hanyalah sekedar emosi sesaat.don’t get swept away by those feelings.keep your feet on the ground.kalo sekarang kamu menyerah pada keadaan tersebut apa yang bisa menjamin kalo kamu gak bakal menyerah untuk kedua kalinya ketika perasaan itu datang kembali???

but then again, it’s just my perspective…

A Thing About Adulthood


they say that when you grew up, you start to miss all the small things you do when you’re just little kid. playing marbles, kites, or just a simple run in the park with your childhood friends. growing up is a process. you can’t avoid it, you can deny it but it won’t do you any good. because no matter how hard you try to stop it, the wheel keeps on spinning..

when i was a kid i used to hope to be grown ups. just imagining the things you can do. places you can go and all the excitements make you wannabe grown ups as soon as possible. but when you’ve come to that period of life you’ll start to think how life was much easier when you’re just a kid. sure you can do all sort of things but every action  has it’s own reaction. just like what uncle ben says : “with great powers comes great responsibillities”.

growing up is not the same as being adults. they say that growing up is a must but being adults is an option. choices you made and the actions you take, determines your value in life as an adult. people will expect you to follow rules that society have accepted, even if the rules are sometimes against your own will. and sometimes in beetween those rules you start losing yourself and became a social robot. but hey that’s life. deal with it.

Cintapucino


haven’t wrote in quite a while. right now i’m watching cintapucino (the movie). i don’t know why but i have a strong resentment for this film.

maybe it’s because the main characters attitude that drives me crazy. could you imagine that when you’ve made up your mind to marry someone, you could just leave him/her like that coz a phantom from the past?

doesn’t it occured to you how he/she would feel about that. could you truly be happy when you know that someone must suffer great pain because of you..because of your selfish act to pursue your own happiness???

well i can’t and that’s why this film is on my negative list for good.

and change we must


ini cuma sekedar tulisan iseng-iseng yang dibuat dalam rangka mendukung program reformasi birokrasi di kantor gw.

happy reading….

Reformasi ?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam bukunya yang berjudul Indonesia On The Move mengungkapkan ada 9 (sembilan) poin dalam sebuah proses perubahan. Salah satu yang cukup menarik perhatian saya adalah poin kesembilan yaitu sebuah perubahan yang berhasil haruslah sebuah perubahan yang dilakukan oleh "National Players" dari negara yang bersangkutan. Yang dimaksud oleh SBY dengan "National Players" disini adalah Pemerintah dengan didukung oleh Warga Negaranya. Prinsip ini pun dapat kita terapkan didalam proses reformasi birokrasi. "National Players" disini tidak lagi kita artikan sebagai Warga Negara tapi kita artikan sebagai seluruh jajaran pimpinan dan pegawai di suatu instansi pemerintahan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses perubahan sebuah organisasi, pegawai merupakan stakeholder terpenting yang menentukan sukses tidaknya perubahan tersebut. Karena tanpa dukungan dari internal organisasi, perubahan yang terjadi tidak akan optimal. Agar dapat memperoleh dukungan dari para pegawai haruslah dijalin komunikasi yang baik tentang 5W1H yang menjadi inti dari proses perubahan di organisasi tersebut. 5W1H sendiri dapat dijabarkan sebagai :

W yang pertama adalah Why. Kenapa harus ada perubahan?

W yang kedua adalah Who. Siapa saja yang terlibat?

W yang ketiga adalah When. Kapan akan dilaksanakan proses perubahan tersebut?

W yang keempat adalah Where. Di sektor mana saja yang akan dilakukan perubahan?

W yang kelima adalah What. Apa yang ingin dicapai dengan Perubahan tersebut?

Dan H yang terakhir adalah How. Dengan cara bagaimanakah perubahan tersebut akan dilakukan dan bagaimana peran masing-masing individu didalam proses prubahan tersebut?

Bukan tidak mungkin tanpa pemahaman terhadap keenam poin diatas malah akan menimbulkan resistensi dari para pegawai terhadap proses perubahan itu sendiri. Hendaknya setiap pegawai dapat dilibatkan dalam proses reformasi sehingga rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberhasilan proses reformasi menjadi milik seluruh pegawai secara kolektif dan tidak hanya seolah-olah menjadi milik segelintir orang saja.

Indonesia On The Move


beberapa hari yang lalu gw lagi jalan-jalan ke gramedia. niat awalnya mau beli hadiah buat ultah nyokap. nah pas nyari hadiah itu i stumble upon a very nice book. judul bukunya Indonesia On The Move by our very own president  SBY. dilihat dari tahun terbitnya sih sepertinya buku itu sudah lama terbit tapi baru sekarang saya "temukan". maklum biasanya ke Gramed cuma buat beli komik :p

Buku itu isinya kumpulan pidato dan artikel yang dibuat oleh presiden SBY. buku itu merangkum semua pemikiran beliau tentang berbagai aspek kehidupan. mulai dari ketatanegaraan, sosial, politik, harapan-harapan beliau tentang Indonesia di masa yang akan datang dan banyak lagi.

saya sendiri termasuk seorang pengagum dari presiden kita yang satu ini. menurut saya bahasa yang dipergunakan di dalam buku itu sangat menarik dan mempesona (mungkin beliau punya tim khusus untuk menyusun naskah pidato) tapi diluar itu buku ini bercerita banyak tentang keinginan-keinginan seorang presiden yang ingin memajukan bangsanya. pandangan-pandangan beliau tentang perkembangan masyarakat global dan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.

singkat kata buku ini memberikan kita insight look terhadap SBY. tidak hanya sebagai seorang presiden tapi juga sebagai pribadi dan bagian dari masyarakat. i highly recomend this book bukan hanya bagi para pengagum SBY namun juga bagi mereka yang peduli dengan bangsa kita.

A Visit to Mitra


Jumat tanggal 11 Januari 2008 kemarin gw pergi ke rumah sakit mitra kemayoran. disana ada teman gw yang sakit lumayan parah. dia didiagnosa kanker otak. sebelumnya juga gw dah pernah ke rumah sakit itu tapi pas gw dateng, jam besuknya sudah habis jadi gak bisa ngelihat.

nah pas kemaren itu ada sekitar 11 orang yang datang ke rumah sakit termasuk cewek gw. hehehe…. :p pas kita nyampe rumah sakit pas banget sama waktu jenguk dimulai jadi kita bisa ngelihat langsung kondisinya.

pas kita masuk ruangan tempat dia dirawat (di ICCU) terus terang gw sampai speechless. gak bisa ngomong sama sekali. dari penjelasan orang tuanya dia sudah beberapa hari koma. sama sekali tidak bisa bergerak plus di tubuhnya dipasang banyak banget alat bantu kehidupan. mulai alat pacu jantung, ventrilator, dll you name it he’s got it. Masya Allah… gw benar-benar gak tega ngelihatnya…

waktu gw masuk ada kejadian yang bikin gw penasaran. pas gw berdiri di dekat tempat tidur dia, gw sempat ngelihat kakinya bergerak sampai 2 kali. ya mungkin kejang… tapi bisa juga dia pengen nunjukin kalo dia tahu kita pada datang.

berjuang terus sahabat ku… jangan pernah menyerah…

Belajar Dari Kegagalan


Orang bilang hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tapi pada kenyataannya banyak manusia yang melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali. Ada ungkapan bahwa manusia harus mampu belajar dari kesalahannya, saya tadinya sempat menyetujui ungkapan itu sampai seorang teman saya mempunyai pendapat lain.

Beliau menyatakan bahwa hanya orang bodoh yang belajar dari keslahannya sendiri. Orang yang pandai akan belajar dari kesalahan orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Terus terang saya sempat kaget mendengar pendapat tersebut, tapi setelah dipikirkan lagi mungkin ada benarnya.

ya bagaimana menurut anda????